Setelah
sekian lama menahan untuk tidak menulis hal ini,mungkin ini saat yang tepat
untuk menulisnya. Ini berawal dari pengamatan saya kepada teman-teman saya
pengguna media sosial yang “taat” (termasuk saya ). Di era digital ini kita sudah sangat sering
melihat fenomena media sosial yang dalam sekejap dapat menjadi tranding topik
di dunia nyata. Saya rasa hal ini tidak lepas dari sebuah “tanggapan”,
tanggapan nitizen kepada sebuah fenomena. Tanggapan ini dapat berupa, menyukai,
membagikan,mengomentari juga dengan menambahkan qoute pribadi tentang fenomena
tersebut. Manusia yang pada dasarnya adalah informan yang ingin selalu
membagikan informasi yang diterima,seperti gayung bersambut, pengembang media
sosial kini tengah berlomba-lomba mengembangkan aplikasinya untuk memnuhi
hasrat dasar manusia tersebut.
Hal
tersebut tak lantas hanya menghasilkan manfaat, dengan bagaimana mudahnya
menanggapi informasi. Tapi juga menimbulkan tantangan bahwa setiap fenomena
yang kita tanggapi (dengan cara kita) akan menimbulkan efek tertentu. Efek ini
bisa terjadi kepada kita,kepada lingkungan kita dan kepada fenomena tersebut.
Kita sudah tak asing dengan kisah bagaimana seorang lelaki harus duduk di kursi
pesakitan hanya lantaran quotenya terhadap sebuah video. Kita juga pastinya
masih ingat bagaimana seorang karyawan yang kehilangan kontrol emosinya lantas
memaki seorang ulama, hingga bos sang karyawan harus meminta maaf di media. Dan
kita pasti tahu bagaimana hanya lantaran sebuah ungkapan “ om telolet om”
lantas sepertinya seantero jagad sedang viral perkataan itu.
“Oleh karena timbulnya multi efek dari
setiap tanggapan yang kita berikan ini ,maka ijinkanlah saya mengemukakan pertanyaan
yang berasal dari hasil perenungan pribadi saya.”
Apakah
sudah barang tentu fenomena yang kita tanggapi di medsos itu penting bagi
prinsip kehidupan kita ?. Atau hanyakah pemuas nafsu “ikut-ikutan” ?
Apakah
kita yakin prinsip kita yang terganggu dengan adanya sebuah postingan di medsos
ini sudah benar (tentunya kita pasti akan meyakini bahwa prinsip yang kita pegang
adalah kebenaran mutlak) ?. Atau bahkan kita masih memiliki prinsip yang
abu-abu ,tidak totalitas, dan memiliki standart ganda ?
Apa
sebenarnya tujuan kita menanggapi fenomena atau postingan tersebut (walaupun
kadang saya juga melakukanya) ?. Apakah sebagai tanda kita menyetujuinya,apakah
untuk menunjukan kebenaran pinsip kita?, apakah untuk membungkam pihak yang
memiliki prinsip yang tidak sama dengan kita ?. atau karena ada tujuan lain.
Yang
jelas apapun alasan kita menanggapi sebuah fenomena atau postingan tetap saja
kita harus tahu batas. Bukankah kita dilahirkan tidak dengan kemampuan membaca
fikiran orang lain,bukankah orang lain dilahirkan juga tanpa memiliki kemampuan
membaca fikiran kita, bukankah kita pada dasarnya tidak mampu mengukur niat
seorang yang berada dihatinya,demikian pula orang lain tak mampu mengukur niat
di hati kita. Sudah yakinkah postingan yang kita tanggapi memiliki kesamaan
maksud dengan penulisnya. Atau jangan-jangan bahkn kita tidak faham dengan
postingan yang kita tanggapi.
Bukankah
lebih menyejukan menjadikan postingan yang tidak kita setujui sebagai
pembelajaran bagi pribadi kita. Bukan malah menjadikanya sebuah bahan
perdebatan di laman komentar. Bukankah lebih menenangkan menyimpan dan
menjadikan postingan yang kita setujui sebagai bahan referensi pribadi , dan
bukan malah memancing orang untuk mendebatnya ( lalu tujuanmu untuk menunjukan
keahlianmu berdebat tercapai).
Salam Mas Suwarno. Nice Blog.
BalasHapus