Rabu, 21 Desember 2016

free bully



Setelah sekian lama menahan untuk tidak menulis hal ini,mungkin ini saat yang tepat untuk menulisnya. Ini berawal dari pengamatan saya kepada teman-teman saya pengguna media sosial yang “taat” (termasuk saya ). Di era digital ini kita sudah sangat sering melihat fenomena media sosial yang dalam sekejap dapat menjadi tranding topik di dunia nyata. Saya rasa hal ini tidak lepas dari sebuah “tanggapan”, tanggapan nitizen kepada sebuah fenomena. Tanggapan ini dapat berupa, menyukai, membagikan,mengomentari juga dengan menambahkan qoute pribadi tentang fenomena tersebut. Manusia yang pada dasarnya adalah informan yang ingin selalu membagikan informasi yang diterima,seperti gayung bersambut, pengembang media sosial kini tengah berlomba-lomba mengembangkan aplikasinya untuk memnuhi hasrat dasar manusia tersebut.
Hal tersebut tak lantas hanya menghasilkan manfaat, dengan bagaimana mudahnya menanggapi informasi. Tapi juga menimbulkan tantangan bahwa setiap fenomena yang kita tanggapi (dengan cara kita) akan menimbulkan efek tertentu. Efek ini bisa terjadi kepada kita,kepada lingkungan kita dan kepada fenomena tersebut. Kita sudah tak asing dengan kisah bagaimana seorang lelaki harus duduk di kursi pesakitan hanya lantaran quotenya terhadap sebuah video. Kita juga pastinya masih ingat bagaimana seorang karyawan yang kehilangan kontrol emosinya lantas memaki seorang ulama, hingga bos sang karyawan harus meminta maaf di media. Dan kita pasti tahu bagaimana hanya lantaran sebuah ungkapan “ om telolet om” lantas sepertinya seantero jagad sedang viral perkataan itu.
“Oleh karena timbulnya multi efek dari setiap tanggapan yang kita berikan ini ,maka ijinkanlah saya mengemukakan pertanyaan yang berasal dari hasil perenungan pribadi saya.”
Apakah sudah barang tentu fenomena yang kita tanggapi di medsos itu penting bagi prinsip kehidupan kita ?. Atau hanyakah pemuas nafsu “ikut-ikutan” ?
Apakah kita yakin prinsip kita yang terganggu dengan adanya sebuah postingan di medsos ini sudah benar (tentunya kita pasti akan meyakini bahwa prinsip yang kita pegang adalah kebenaran mutlak) ?. Atau bahkan kita masih memiliki prinsip yang abu-abu ,tidak totalitas, dan memiliki standart ganda ?
Apa sebenarnya tujuan kita menanggapi fenomena atau postingan tersebut (walaupun kadang saya juga melakukanya) ?. Apakah sebagai tanda kita menyetujuinya,apakah untuk menunjukan kebenaran pinsip kita?, apakah untuk membungkam pihak yang memiliki prinsip yang tidak sama dengan kita ?. atau karena ada tujuan lain.
Yang jelas apapun alasan kita menanggapi sebuah fenomena atau postingan tetap saja kita harus tahu batas. Bukankah kita dilahirkan tidak dengan kemampuan membaca fikiran orang lain,bukankah orang lain dilahirkan juga tanpa memiliki kemampuan membaca fikiran kita, bukankah kita pada dasarnya tidak mampu mengukur niat seorang yang berada dihatinya,demikian pula orang lain tak mampu mengukur niat di hati kita. Sudah yakinkah postingan yang kita tanggapi memiliki kesamaan maksud dengan penulisnya. Atau jangan-jangan bahkn kita tidak faham dengan postingan yang kita tanggapi.
Bukankah lebih menyejukan menjadikan postingan yang tidak kita setujui sebagai pembelajaran bagi pribadi kita. Bukan malah menjadikanya sebuah bahan perdebatan di laman komentar. Bukankah lebih menenangkan menyimpan dan menjadikan postingan yang kita setujui sebagai bahan referensi pribadi , dan bukan malah memancing orang untuk mendebatnya ( lalu tujuanmu untuk menunjukan keahlianmu berdebat tercapai).

1 komentar:

mouse